Cabe__Siap_Panen“ kenapa hanya di polybag, sekarang praktekan saja di tanah langsung…” begitu uangkapan yang saya dengar saat berbincang dengan bapak Sudibyo, salah seorang yang diperkenalkan oleh romo Frans Doy, di Paroki St. Gabriel – Pulo Gebang Permai Jakarta Timur.  Sekilas, ungkapan “Praktekan dong secara langsung..” terdengar hanya sekedar  kalimat perintah biasa. Bahkan kalimat itu bisa menjadi satu kata sidiran  karena lawan bicaranya hanya sekedar omong doang. Bisa jadi, kalimat itu juga menjadi kalimat tantangan, sebab ingin melihat langsung bukti dari kesungguhan yang diajak bicara.

Hmm….anda yang membaca ini, tentu bingung ya..dengan barisan yang tertulis di paragraf di atas. Jadi begini, diantara romo Frans Doy dan bapak Sudibyo, kami ada berenam yang berkumpul untuk membicarakan sebuah kerja sama dalam hal bercocok tanam. Kami dari (fr. Ari, Dian dan Paul Pri Handono – dari Panti Asuhan Pelayanan Kasih Bhakti Mandiri) bertemu dengan tim dari Romo Frans Doy – Bapak Sudibyo, bapak Budi dan Fr). Setelah sekian lama fr. Ari berbicara mengenai rencana-rencana untuk bercocok tanam dan bersiap untuk melakukan tanaman percontohan di polybag, namun, akirnya bapak sudibyo yang sedari td menyimak mulai mencetuskan kalimat ..”yo..langsung dipraktekan saja ..tanah ada dan luas kok..” Akhirnya, pembicaraan seputar rencana kerja sama daam bidang pertanian menjadi jauh lebih bersemangat.

Lalu apa yang membuat bersemangat?? Ya itu tadi, ungkapan “dipraktekan saja to..” Mendengar kalimat itu secara berulang-ulang, tentu menjadi sebuah hal yang pasti ada makna dibalik kalimat itu. Saya, langsung teringat akan sebuah kutipan Lukas 11:28 ” Berbahagialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Apakah kami berbahagia saat mendengar ucapan bapak sudibyo?? “Tentu kami berbahagia, sebab impian untuk mengembangkan karya Allah sudah di depan mata. Bahagia karena karena mendengarkan apa yang sudah lama kami nantikan. bahagia karena kalimat perintah ‘ya dipraktekan dan mendengarkan’ menjadi satu kesatuan yang manumbuhkan sebuah pengharapan baik dalam benak kami. Bahagia sebab keinginan kami untuk mempraktekan secuil ilmu pertanian sudah siap dilaksankan.” setidaknya itu yang terucap dari ungkapan hati fr. Ari scc.

Lalu apa ungkapan syukur pada Allah yang biSA terucap dan bermakna dalam hidupku? Jika Rasul Paulus mengungkapkan perasaan hatinya kepada jemaat dikorintus (1korintus 13:13) beberapa ribu tahun silam dengan kalimat iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Maka ketika mendengar ungkapan bapak Sudibyo, Romo Frans Doy dan Fr. Ari scc. Bagiku yang diantara ketiganya (harapan, iman dan kasih) sesuatu yang lebih besar saat ini adalah “Harapan”. harapan akan masa depan, harapan akan sebuah karya Allah yang jauh lebih besar dan tentunya secuil harapan agar kami mampu melakukan dan mempraktekan serta membuktikan segala apa yang sudah kami bicarakan itu.

SEMOGA!!